• Aucun résultat trouvé

Test results analysis of switchgear on building electrical system at Serba Guna GA Siwabessy reactor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Partager "Test results analysis of switchgear on building electrical system at Serba Guna GA Siwabessy reactor"

Copied!
10
0
0

Texte intégral

(1)

5-1

2016

Keselamatan

Nuklir

2016

ANALISA HASIL PENGUJIAN SWITCHGEAR PADA SISTEM KELISTRIKAN GEDUNG REAKTOR SERBA GUNA GA

SIWABESSY

Adry Fadillah

Badan Pengawas Tenaga Nuklir Email : [email protected]

ABSTRAK

ANALISA HASIL PENGUJIAN SWITCHGEAR PADA SISTEM KELISTRIKAN GEDUNG REAKTOR SERBA GUNA GA SIWABESSY. Telah dilakukan analisa hasil pengujian pada busbar dan switchgear sistem kelistrikan gedung Reaktor Serba Guna GA Siwabesy (RSG-GAS). Switchgear dilengkapi dengan dua komponen utama, yaitu pemutus tenaga PMT yang berfungsi untuk menghubungkan atau melepaskan beban dan pemisah PMS yang berfungsi memisahkan saluran transmisi dan peralatan yang terpasang pada instalasi listrik RSG-GAS. Analisa fungsi switchgear dilakukan dengan cara pengujian pada tanggal 8 Nopember 2014 dimana tahanan kontak (contact resistance) 44,30 s/d 73,50 µΩ ≤ 100 μΩ diperoleh masih dalam keadaan baik yaitu tidak melebihi Standar yang berlaku (PLN P3BPJ; R ≤ 100 μΩ) jadi masih memenuhi standar yang berlaku. Sehingga kontak-kontak breaker terhubung dengan sempurna. Dan tahanan kebocoran (leakage resistance) 1211,4 s/d 6172,8MΩ > 500 MΩ bahwa hasil pengujian tahanan kebocoran (leakage resistance) lebih besar daripada batas tahanan kebocoran yang dipersyaratkan yaitu 500 MΩ sesuai dengan standar VDE (Verband der Electrotrchnic) yaitu R > 500 MΩ.

Berdasarkan hasil tersebut, tahanan kebocoran dalam keadaan baik.

Kata kunci: tahanan kontak, tahanan kebocoran, Switchgear, Busbar ABSTRACT

TEST RESULTS ANALYSIS OF SWITCHGEAR ON BUILDING ELECTRICAL SYSTEM AT SERBA GUNA GA SIWABESSY REACTOR. Analysis of testing on the busbar and switchgear in the Electrical Sistem RSG GAS building. Switchgear have two main components, there are circuit breaker (PMT) for connecting or releasing load and disconnect switch (PMS) distributing transmission lines and equipment intalled on elecricity RSG GAS building. Analysis of testing function switchgear conducted tested on 8-th November 2014 with result contact resistance 44,30 s/d 73,50 µΩ ≤ 100 μΩ still in good condition which does not exceed the applicable standards (PLN P3BPJ; R ≤ 100 μΩ) so they meet the applicable standards. So that the breaker contacts connected perfectly.

And leakage resistaance 1211,4 s/d 6172,8MΩ > 500 MΩ that the test results leakage resistance greater than the threshold required leakage resistance is 500 MΩ according to the standard VDE (Verband der Electrotrchnic) is R> 500 MΩ. The result obtained leakage resistance in good condition.

Keywords : Contact Resistance, Leakage Resistance, Switchgear, Busbar

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pada RSG-GAS terdapat 3 (tiga) jenis sumber yang berbeda yaitu listrik PLN, Pembangkit Listrik Tenaga Disel (genset), dan Batere.

Listrik PLN merupakan sumber penyedia daya utama, dipasok dari Gardu Induk Serpong melalui kabel bawah tanah pada tegangan 20 kV setelah itu melalui tiga unit transformator penurun tegangan (step down transformer) 20 kV/400 V BHT01, BHT02, dan BHT03 dengan kapasitas masing-masing 1600 kVA.

Pada panel distribusi BHT01, BHT02, dan BHT03 gedung RSG-GAS terdapat peralatan untuk pemutus dan penghubung yaitu Swicthgear yang dilengkapi dengan 2 (dua) komponen utama yaitu pemutus tenaga PMT (Circuit Breaker) dan pemisah PMS (disconnect Switch), pemutus tenaga PMT berfungsi untuk menghubungkan atau melepaskan beban sedangkan

pemisah PMS (disconnect Switch) berfungsi memisahkan saluran transmisi dan peralatan yang ada dalam gardu induk (GI). Bila terjadi gangguan yang akan membahayakan sistem dan peralatan yang terpasang pada gedung Reaktor Serba Guna GA Siwabessy (RSG-GAS) maka Switchgear harus dapat bekerja dengan baik. Gagalnya operasi switchgear akan menyebabkan kegagalan operasi reaktor.

Untuk mengetahui apakah Switchgear pada gedung RSG-GAS masih berperan dan berfungsi seperti yang diharapkan mengingat usia operasional yang telah cukup lama lebih dari 18 tahun, maka perlu dilakukan pengujian terhadap unjuk kerja Switchgear tersebut.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan analisa pengujian switchgear ini adalah untuk menganalisa hasil pengujian switchgear pada sistem kelistrikan gedung reaktor RSG-GAS. Hasil

(2)

5-2

kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi khususnya pada RSG-GAS.

Manfaat analisa hasil pengujian switchgear ini adalah mengetahui tahanan kontak dan tahanan kebocoan pada Switchgear apakah masih bekerja dengan baik. Dan apakah memenuhi standar yang belaku. Mempermudah mengontrol fungsi switchgear yang didalamnya terdapat PMT dan PMS.

Mempermudah penanganan gangguan sistem kelistrikan. Mempermudah pemeliharaan switchgear dalam sistem kelistrikan gedung Reaktor Serba Guna GA Siwabessy.

1.3 Switchgear

Switchgear adalah Peralatan hubung yang terpasang pada Sistem kelistrikan RSG-GAS digunakan untuk menghubungkan catu daya utama PLN dan saluran distribusi gedung RSG-GAS dengan busbar yaitu rel melalui transformator distribusi.

Peralatan yang terpasang pada switchgear RSG-GAS setiap salurannya dilengkapi dengan pemutus tenaga (circuit breaker) dan pemisah (disconnect switch).

Gambar 1. Switchgear 1.4 Pemutus Tenaga (PMT)

Pemutus tenaga yang terdapat pada Switchgear Sistem Kelistrikan RSG-GAS berfungsi untuk menghubungkan atau melepaskan beban, apabila terjadi gangguan pada suatu Sistem Kelistrikan RSG- GAS.

Pemutus tenaga yang dipasang pada sistem kelistrikan gedung RSG-GAS yaitu: pemutus tenaga dengan media Vacuum Circuit Breaker (VCB) dan pemutus tenaga dengan media gas SF6 (Sulphur Hexaflouride Breaker)

1.4.1 Pemutus tenaga dengan media Vacuum Circuit Breaker (V.C.B)

Pemakaian pemutus tenaga dengan media udara vakum cukup banyak digunakan pada tegangan menengah dan tinggi. Udara bertekanan tersebut digunakan untuk operasi membuka, menutup dan memadamkan busur api.

Pemutus tenaga dengan hampa udara memiliki kontak-kontak pemutus tetap dan bergerak yang ditempatkan dalam ruang hampa udara. Ruang hampa udara tersebut memiliki kekuatan dielektrik yang cukup tinggi dan merupakan media pemadaman busur api yang baik. Untuk mencegah udara masuk ke dalam bilik, maka bilik harus ditutup rapat dan kontak bergeraknya diikat ketat dengan perapat logam.

Jika kontak dibuka, maka pada katoda kontak terjadi emisi thermis dan medan tegangan yang tinggi yang memproduksi elektron-elektron bebas. Elektron hasil emisi ini bergerak menuju anoda. Dalam perjalanannya menuju anoda, elektron-elektron bebas ini bertemu dengan molekul udara sehingga tidak terjadi ionisasi tumbukan. Akibatnya, tidak ada penambahan elektron bebas yang mengawali pembentukan busur api. Dengan kata lain, busur api dapat dipadamkan. Secara sederhana kontak pemutus tenaga jenis vakum ditunjukkan pada Gambar 2

Gambar 2 Kontak Pemutus Tenaga Vakum 1.4.2 Pemutus tenaga dengan media GAS SF6 (Sulphur Hexafluoride Breaker)

Media gas yang digunakan adalah gas SF6 (Sulphur Hexaflouride Breaker) yang mempunyai sifat tidak berbau, tidak berbau, tidak berwarna, tidak beracun dan tidak mudah terbakar. Penggunaan pemutus tenaga pada temperatur diatas 150 ºC gas SF6 mempunyai sifat tidak merusak metal, plastik dan bahan lainnya yang umum digunakan dalam pemutus tenaga tegangan tinggi. Disisi lain, gas SF6 mempunyai karakteristik disipasi panas yang baik serta kuat medan dielektrik yang besar dibandingkan dengan minyak.

Jadi fungsi media gas SF6 tersebut adalah memadamkan busur api listrik yang timbul antara kontak pada waktu membuka dan sebagai isolasi antara bagian-bagian yang bertegangan. Bentuk PMT jenis SF6 ditunjukan pada gambar 3.

(3)

5-3

Gambar 3 Pemutus Tenaga dengan Media Gas SF6 Bagian-bagian utama pemutus tenaga dengan media gas SF6 antara lain:

1. Ruangan pemutus tenaga 2. Kontak-kontak

3. Pengatur busur api 4. Bangian penyangga 5. Mekanis penggerak

Prinsip kerja pemutus tenaga dengan media gas SF6 yaitu proses membuka dan menutup dilakukan dengan cara menaikan dan menurunkan posisi dari kontak bergerak yang terhubung pada batang penggerak yang digerakkan oleh penggerak mekanis.

1.5 Saklar Pemisah (PMS)

Saklar pemisah adalah suatu alat yang digunakan untuk menyatakan secara visual bahwa suatu peralatan listrik sudah bebas dari tegangan kerja. Sehingga saklar pemisah tidak diijinkan untuk dimasukkan atau dikeluarkan pada rangkaian listrik dalam keadaan berbeban. Jadi saklar pemisah adalah peralatan yang dapat memutus dan menutup rangkaian yang arusnya rendah (± 5 Ampere) atau pada rangkaian dimana pada saat saklar terbuka tidak terjadi perbedaan tegangan yang besar pada kutub saklarnya. Jenis saklar pemisah yang digunakan pada Switchgear sistem kelistrikan gedung RSG-GAS dilengkapi dengan sistem interlok.

Gambar 4 Saklar Pemisah

1.6 Peran Switchgear dalam kondisi terjadi gangguan

Ketika terjadi gangguan, maka akan terlihat adanya indikasi gangguan pada panel sistem kelistrikan yang terdapat di RKU menyala pada posisi off untuk membuktikan apakah gangguan itu pada peralatan switchgear, maka dapat dilihat pada panel lokal yang terdapat di masing-masing ruang indikasi gangguan tersebut dengan menunjukkan adanya lampu indikator menyala pada bagian yang mengalami gangguan.

Untuk mengatasi gangguan yang terjadi perlu diperhatikan tahapan-tahapandan ketentuan-ketentuan yang berupa prosedur mengatasi gangguan pada sistem kelistrikan.

(4)

5-4

Gambar 5 Diagram alir mengatasi gangguan 1.7 Pemeliharaan peralatan Switchgear pada

sistem kelistrikan RSG-GAS

Melakukan pemeliharaan peralatan Switchgear adalah mengkoordinasi antara pelaksana perawatan dengan petugas yang ada di RKU supaya tidak terjadi kesalahan prosedur. Setelah koordinasi dilanjutkan dengan memeriksa dan mencatat jenis dan tipe peralatan yang akan dipelihara bilamana ada penggantian atau perbaikan akan mudah untuk mencari yang sesuai selanjutnya periksa apakah peralatan sudah kondisi siap? Kalau ya maka lanjutkan perawatan yang meliputi membersihkan dari kotoran-kotoran seperti debu minyak dan lain-lain yang akan menggannggu kelancaran operasi. Jika tidak lakukan penggantian peralatan yang mengalami kerusakan dengan tipe, sejenis, spesifikasi dan serinya yang sama agar dapat beroperasi seperti yang sebelumnya. Setelah semua peralatan yang dilakukan pemeliharaan siap lakukan pengetesan operasi, dalam pengetesan ini apakah peralatan berfungsi baik? Apabila tidak maka segera hentikan dan lakukan pemeriksaan ulang apa yang menjadi penyebab ketidaklancaran operasi setelah diketahui penyebabnya sebagai contoh ada PMT yang kendor kontak-kontaknya, segera melakukan pengencangan sesuai kebutuhan apabila ya berarti pemeliharaan selesai.

Gambar 6 Diagram alir prosedur pemeliharaan

II. METODE PENELITIAN

Gambar 7 Diagram Alir Meode Penelitian

(5)

5-5

2.1 Data spesifikasi Switchgear

Data spesifikasi switchgear yang digunakan pada Sistem kelistrikan gedung RSG-GAS mengacu kepada IEC Publ. 298 dan 694, DIN VDE, part 1000, NBD 610, NFC 64400, ANSI C37.20.2-1987. Data spesifikasi switchgear tersebut seperti ditunjukkan pada Gambar 8

Gambar 8 Data spesifikasi switchgear di RSG-GAS 2.2 Pengujian

Pengujian dilakukan di Pusat Reaktor Serba Guna GA. Siwabessy BATAN PUSPITEK Serpong pada tanggal 8 Nopember 2014. Secara umum pengujian terbagi atas dua macam, yakni pengujian tahanan kontak (contact resistance) dan pengujian tahanan kebocoran (leakage resistance). Kedua pengujian tersebut dilakukan pada Busbar Incoming Feeder.01/02/03 dan Modul Breaker PMT BHT.01/02/03

2.2.1 Peralatan Pengujian

Pengujian ini menggunakan peralatan sebagai berikut : a. DMOM 200 Vanguard Instrument Co.

Gambar 9 DMOM 200 V Vanguard Instrument Co.

b. SEBA KMT 80 KV

Gambar 10 SEBA KMT 80 KV

2.2.2 Pengujian tahanan kontak (contact resistance) Pengukuran tahanan kontak untuk memastikan bahwa kontak-kontak utama breaker telah terhubung dengan sempurna. Untuk meyakinkan bahwa kontak – kontak utama breaker telah terhubung dengan sempurna maka perlu dilakukan pengukuran tahanan hubungan kontak – kontak dengan cara :

a. Mengukur besarnya resistansi hubungan kontak – kontak menggunakan ductor ohm meter

b. Kontak – kontak circuit breaker yang diukur, harus dalam posisi terhubung

Gambar 11 Prinsip pengukuran tahanan hubungan kontak

2.2.3 Pengujian tahanan kebocoran (leakage resistance)

Pengukuran tahanan isolasi atau tahanan kebocoran (leakage resistance) merupakan metode nondestructive untuk menentukan kondisi isolasi dari peralatan dalam hal ini Circuit Breaker, pengukuran dilakukan antara bagian fasa dengan ground.

(6)

5-6

2.2.3 Foto saat Pengujian

Gambar 12 Saat Pengujian berlangsung 2.3 Data Hasil Pengujian

Hasil pengujian yang dilakukan pada Busbar Incoming Feeder BHT.01/02/03 dan Modul Breaker PMT BHT.01/02/03 mengunakan pengujian tahanan kontak (contact resistance) dan tahanan kebocoran (leakage resistance). Berikut data hasil pengujian : 2.3.1 Pengujian pada Busbar

Tabel 1 Pengujian tahanan kontak (contact resistance) pada Busbar

Contact Resistance

Phasa Arus (Amp) Nilai (µOhm)

R 100,02 70,09

S 100,01 60,9

T 100,01 61,2

Tabel 2 Pengujian tahanan kebocoran (leakage resistance) pada Busbar

Leakage Resistance

Phasa-Ground Tegangan (KV) Arus (µA)

R-G 22,5 20

S-G 22,5 10

T-G 22,5 18

2.3.2 Pengujian pada Switchgear

Tabel 3 Pengujian tahanan kontak (contact resistance) pada Switchgear

Contact Resistance

BHT 01

Phasa Arus (µAmp) Nilai (µOhm)

R 3,20 52,1

S 4,93 44,3

T 7,29 54,3

BHT 02

R 36,60 73,5

S 36,59 60,1

T 15,60 72,9

BHT 03

R 20,27 66,6

S 30,61 58,7

T 25,72 58,3

Tabel 4 Pengujian tahanan kebocoran (leakage resistance) pada Switchgear

Leakage Resistance

BHT 01

Phasa- Ground

Tegangan

(KV) Arus (µA)

R-G 20 3,45

S-G 20 4,68

T-G 20 5,91

BHT 02

R-G 20 16,51

S-G 20 12,57

T-G 20 3,24

BHT 03

R-G 20 8,64

S-G 20 9,72

T-G 20 12,51

III. Hasil Peneltian dan Pembahasan 3.1 Hasil Penelitian

Setelah dilakukan pengujian maka untuk pengujian tahanan kontak (contact resistance) dihasilkan fasa R, S dan T harus sesuai standar PLN P3BPJ yaitu R ≤ 100 µOhm. Dan untuk pengujian tahanan isolasi atau tahanan kebocoran (leakage resistance) dilakukan antara bagian fasa dengan ground, harus sesuai dengan standar VDE (Verband der Electrotrchnic) yaitu R > 500MOhm.

Untuk data pengujian tahanan kontak (contact resistance) dapat dilihat hasilnya secara langsung pada tabel pengujian. Sedangkan data pengujian tahanan kebocoran (leakage resistance) dihitung menggunakan persamaan:

R= V ...(4.1) i

(7)

5-7

Dimana i = Arus Bocor (Ampere) V = Tegangan Uji (Volt) R = Tahanan Kebocoran (Ohm)

3.1.1 Pengujian tahanan kontak (contact resistance) pada Busbar

a. Phasa R dengan arus 100,02 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 70,09 µOhm b. Phasa S dengan arus 100,01 A, dihasilkan

tahanan kontak sebesar 60,09 µOhm c. Phasa T dengan arus 100,01 A, dihasilkan

tahanan kontak sebesar 61,20 µOhm 3.1.2 Pengujian tahanan kebocoran (leakage

resistance) pada Busbar

a. Phasa-Ground R-G dengan tegangan 22,5 KV dan Arus 20 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar :

R = 22500 / 20 x 10-6 = 1125.000.000 Ohm Jadi tahanan kebocorannya sebesar 1125 M Ohm = 1,125 G Ohm

b. Phasa-Ground S-G dengan tegangan 22,5 KV dan Arus 10 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar :

R = 22500 / 10 x 10-6 = 2250.000.000 Ohm Jadi tahanan kebocorannya sebesar 2250 M Ohm = 2,250 G Ohm

c. Phasa-Ground T-G dengan tegangan 22,5 KV dan Arus 18 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar :

R = 22500 / 18 x 10-6 = 1250.000.000 Ohm Jadi tahanan kebocorannya sebesar 1250 M Ohm = 1,250 G Ohm

3.1.3 Pengujian tahanan kontak (contact resistance) pada Switchgear

3.1.3.1 Pengujian pada switchgear BHT 01

a. Phasa R dengan arus 3,20 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 52,10 µOhm

b. Phasa S dengan arus 4,93 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 44,30 µOhm

c. Phasa T dengan arus 7,29 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 54,30 µOhm

3.1.3.2 Pengujian pada switchgear BHT 02

a. Phasa R dengan arus 36,60 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 73,50 µOhm

b. Phasa S dengan arus 36,59 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 60,10 µOhm

c. Phasa T dengan arus 15,60 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 72,90 µOhm

3.1.3.3 Pengujian pada switchgear BHT 03

a. Phasa R dengan arus 20,27 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 66,60 µOhm

b. Phasa S dengan arus 30,61 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 58,70 µOhm

c. Phasa T dengan arus 25,72 A, dihasilkan tahanan kontak sebesar 58,30 µOhm

3.1.4 Pengujian tahanan kebocoran (leakage resistance) pada Switchgear

3.1.4.1 Pengujian pada switchgear BHT 01

a. Phasa-Ground R-G dengan tegangan 20 KV dan Arus 3,45 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar : R = 20000 / 3,45 x 10-6 = 5797.101.449 Ohm

Jadi tahanan kebocorannya sebesar 5797,1 M Ohm = 5,7971 G Ohm

b. Phasa-Ground S-G dengan tegangan 20 KV dan Arus 4,68 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar : R = 20000 / 4,68 x 10-6 = 4273.504.274 Ohm

Jadi tahanan kebocorannya sebesar 4273,5 M Ohm = 4,273 G Ohm

c. Phasa-Ground T-G dengan tegangan 20 KV dan Arus 5,91 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar : R = 20000 / 5,91 x 10-6 = 3384.094.755 Ohm

Jadi tahanan kebocorannya sebesar 3384 M Ohm = 3,384 G Ohm

3.1.4.2 Pengujian pada switchgear BHT 02

a. Phasa-Ground R-G dengan tegangan 20 KV dan Arus 16,51 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar : R = 20000/16,51 x 10-6 = 1211.387.038 Ohm.

Jadi tahanan kebocorannya sebesar 1211,4 M Ohm = 1,211 G Ohm

b. Phasa-Ground S-G dengan tegangan 20 KV dan Arus 12,57 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar : R = 20000/12,57 x 10-6 = 1591.089.897 Ohm.

Jadi tahanan kebocorannya sebesar 1591 M Ohm = 1,591 G Ohm

c. Phasa-Ground T-G dengan tegangan 20 KV dan Arus 3,24 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar : R = 20000/3,24 x 10-6 = 6172.839.506 Ohm.

Jadi tahanan kebocorannya sebesar 6172,8 M Ohm = 6,172 G Ohm.

3.1.4.3 Pengujian pada switchgear BHT 03

a. Phasa-Ground R-G dengan tegangan 20 KV dan Arus 8,64 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar : R = 20000/8,64 x 10-6 = 2314.814.815 Ohm

Jadi tahanan kebocorannya sebesar 2314,8 M Ohm

= 2,314 G Ohm

b. Phasa-Ground S-G dengan tegangan 20 KV dan Arus 9,72 µA dihasilkan tahanan kebocoran sebesar : R = 20000/9,72 x 10-6 = 2057.613.169 Ohm

Jadi tahanan kebocorannya sebesar 2057,6 M Ohm

= 2,057 G Ohm

c. Phasa-Ground T-G dengan tegangan 20 KV dan Arus 12,51 µA dihasilkan tahanan kebocoran

(8)

5-8

sebesar : R = 20000/12,51 x 10-6 = 1598.721.023 Ohm

Jadi tahanan kebocorannya sebesar 1598,7 M Ohm

= 1,598 G Ohm 3.2 Pembahasan

Analisa hasil pengujian Switchgear ini bertujuan untuk melakukan pengujian tahanan kontak (contact resistance) dan untuk pengujian tahanan kebocoran (leakage resistance). Perbandingan yang dilihat adalah perbandingan pembacaan tahanan (R) karena harus diatas standar internasional yang berlaku.

Dari data hasil pengujian diatas, bahwa tahanan kontak pada Busbar diketahui bahwa nilai tahanan kontak tertinggi adalah 70,09 µΩ dan nilai tahanan kontak terendah adalah 61,20 µΩ sehingga pada masing-masing fasa (61,20 s/d 70,09 µΩ ≤ 100 μΩ) masih dalam keadaan baik yaitu tidak melebihi dari Standar PLN P3BPJ (R ≤ 100 μΩ) jadi masih memenuhi standart yang berlaku.

Begitu pula pengujian tahanan kontak pada Switchgear bahwa nilai tahanan kontak tertinggi adalah 73,50 µΩ pada BHT 02 dan nilai tahanan kontak terendah adalah 44,30 µ Ω pada BHT 01 pada masing-masing fasa (44,30 s/d 73,50 µΩ ≤ 100 μΩ) masih dalam keadaan baik yaitu tidak melebihi Standar yang berlaku (PLN P3BPJ; R ≤ 100 μΩ) jadi masih memenuhi standar yang berlaku. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kontak-kontak breaker terhubung dengan sempurna.

Untuk perhitungan atas pengujian tahanan kebocoran pada Busbar nilai tahanan kebocoran tertinggi adalah 2250 MΩ dan nilai tahanan kebocoran terendah adalah 1125 MΩ terlihat nilai besarnya masing-masing tahanan isolasi tiap fasa-ground adalah melebihi tahanan kebocoran yang diperbolehkan yaitu 500 MΩ sesuai dengan standar VDE (Verband der Electrotrchnic) yaitu R > 500 MΩ. Hal ini menandakan bahwa tahanan kebocoran masih dalam keadaaan baik.

Sama halnya dengan pengujian tahanan kebocoran pada Busbar, untuk pengujian tahanan kebocoran pada Switchgear nilai tahanan kebocoran tertinggi adalah 6172,8 MΩ pada Phasa-Netral T-N BHT 02 dan nilai tahanan kebocoran terendah adalah 1211,4 MΩ pada Phasa-Netral R-N BHT 02 terlihat nilai besarnya masing-masing tahanan isolasi tiap fasa-ground (1211,4 s/d 6172,8MΩ>500 MΩ) lebih besar daripada batas tahanan kebocoran yang dipersyaratkan yaitu 500 MΩ sesuai dengan standar VDE (Verband der Electrotrchnic) yaitu R > 500 MΩ. Hasilnya diperoleh tahanan kebocoran dalam keadaaan baik.

Bila dibuat dalam tabel untuk analisa hasil pengujian tahanan kontak (contact resistance) sebagai berikut :

Tabel 5 Hasil analisa tahanan kontak (contact resistance) pada Busbar

Contact Resistance

Phas a

Arus (Amp)

Nilai (µOhm)

Standar PLN

P3BPJ Keter angan R ≤ 100

µΩ R 100,02 70,09 R < 100

µΩ.

Baik

S 100,01 60,9 Baik

T 100,01 61,2 Baik

Tabel 6 Hasil Analisa tahanan kebocoran (leakage resistance) pada Busbar

Contact Resistance

B HT

01

Phasa Arus (µAmp)

Nilai (µOhm)

Standar PLN

P3BPJ Keter angan R ≤

100 µΩ R 3,20 52,1 R <

100 µΩ.

Baik

S 4,93 44,3 Baik

T 7,29 54,3 Baik

B HT

02

R 36,60 73,5 R <

100 µΩ.

Baik

S 36,59 60,1 Baik

T 15,60 72,9 Baik

B H T 03

R 20,27 66,6 R <

100 µΩ.

Baik

S 30,61 58,7 Baik

T 25,72 58,3 Baik

(9)

5-9

Tabel 7 Hasil Analisa tahanan kebocoran (leakage resistance) pada Switchgear

Leakage Resistance

B H T 0 1

Pha sa- Net ral

Tega ngan (KV)

Aru s (µA

)

Nila i (M Oh m)

Stand ar

VDE Ketera ngan R >

500 MΩ R-N 20 3,45 579

7,1 R >

500 MΩ

Baik S-N 20 4,68 427

3,5 Baik

T-N 20 5,91 338

4 Baik

B H T 0 2

R-N 20 16,5 1

121

1,4 R >

500 MΩ

Baik S-N 20 12,5

7 159

1 Baik

T-N 20 3,24 617

2,8 Baik

B H T 0 3

R-N 20 8,64 231

4,8 R >

500 MΩ

Baik S-N 20 9,72 205

7,6 Baik

T-N 20 12,5 1

159

8,7 Baik

3.3 Data Grafik

Gambar 12 Grafik Hasil Pengujian tahanan kontak pada Busbar dan Switchgear

Gambar 13 Grafik Hasil Pengujian tahanan Kebocoran pada Busbar dan Switchgear IV. Kesimpulan

1. Dari analisa hasil pengujian switchgear pada sistem kelistrikan gedung Reaktor Serba Guna GA Siwabessy ini disimpulkan bahwa kontak-kontak breaker terhubung dengan sempurna, sebagaimana dari hasil perhitungan diperoleh tahanan kontak pada Switchgear pada masing- masing fasa (44,30 s/d 73,50 µΩ ≤ 100 μΩ) dengan standar yang berlaku (PLN P3BPJ; R ≤ 100 μΩ).

2. Dari analisa tahanan kebocoran pada Busbar, disimpulkan bahwa tahanan kebocoran dalam keadaaan baik. Sebagaimana dari hasil perhitungan diperoleh tahanan kebocoran pada Switchgear masing-masing tahanan isolasi tiap fasa-ground (1211,4 s/d 6172,8MΩ >500 MΩ) lebih besar daripada batas tahanan kebocoran yang dipersyaratkan yaitu R > 500 MΩ. (standar VDE;

Verband der Electrotrchnic).

DAFTAR PUSTAKA

1. Interatom (1986) MPR 30 Electrical Power Supply Summary, System Description

2. MARTIN PANGSONGGO (2001) Peran Pemutus dan pemisah sebagai Peralatan Hubung (switchgear) pada Gardu Induk 150 kV, Institut Sains dan Teknologi AKPRIND, Yogyakarta 3. Yan Bony Marsala (1998) Analisis Karakteristik

Setelah Operasi Sepuluh Tahun, Prosiding Seminar Hasil I'enelitian PRSG

4. C.L. Wadhwa (2007) High Voltage Engineering, New Age International Publisher

5. Thomas Febrian L L B, Ir. Yuningtyastuti, MT (2015) Pemeliharaan Switchgear 6.3 KV Bagian Main Incomer SST Pada PLTGU Blok II PT.Indonesia Power UP Semarang, Makalah Seminar Kerja Praktek

6. Hannan Afifi (2015) Circuit Breaker Tegangan 4160 V Pada PLTU Tambak Lorok PT Indonesia Power Semarang, Makalah Seminar Kerja Praktek 7. Hydroelectric Research And Technical Services

Group (1999) Maintenance Of Power Circuit Breakers,

0 20 40 60 80

Tahanan Kontak

Busbar Switchgear

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000

Tahanan Kebocoran

Busbar

Switchgea r

(10)

5-10 TANYA JAWAB DISKUSI

Penanya: Helen Raflis Pertanyaan:

Mengapa menggunakan standar Jerman dalam pengujian tahanan ini?

Jawaban:

Untuk tahanan kontak sudah memakai standar dari PLN, dari negeri sendiri R ≤ 100 μΩ.

Bila tahanan kebocoran memakai standar dari Jerman VDE (Varband De Electrotecnic) R > 500 MΩ, belum ada standar dari Indonesia.

Références

Documents relatifs

We consider N = 2 superconformal field theory with following properties: a) Coulomb branch operators have fractional scaling dimensions, b) there are exact marginal deformations..

Oalam pemasangan peralatan dan perlengkapan sistem catu daya listrik harus didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam PUlL 2000 dan peraturan-peraturan lain yang

Waktu Pengukuran Parameter Pengukuran Parameter Pengukuran Fasa S Parameter Pengukuran Fasa T.. THD v pada busbar BNB dan BNC relatif sama dengan busbar BNA dimana hal ini

4. Karena Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, dia memerlukan manusia yang lain untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Dari interaksi dan

When it’s just you, your laptop, and a DSL or cable modem, the laptop con- nects directly to the modem using an Ethernet cable and your laptop’s Ethernet connection. The

Sektor pari- wisata dapat memberikan informasi kepada wisatawan untuk memudahkan mereka memutuskan pilihan yang bijak tentang makanan saat berada di tempat berlibur, dan sektor

Untuk mema- hami kekhawatiran masyarakat dan memastikan bahwa keputusan yang diambil dalam manajemen risiko merupakan respons yang diimplementasi dengan cara yang tepat

Bila diperlukan, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan harus menghubungi Dinas Kesehatan setempat untuk mendapatkan bantuan dalam memperoleh perlengkapan yang memadai untuk